game theory dalam asuransi

logika berbagi risiko dengan ribuan orang asing

game theory dalam asuransi
I

Mari kita jujur sejenak. Setiap bulan, kita merelakan sebagian penghasilan kita untuk membeli sesuatu yang tidak terlihat. Kita membayarnya dengan patuh, tapi kita berdoa kepada Tuhan agar kita tidak pernah menggunakan produk tersebut. Ya, kita sedang membicarakan asuransi. Pernahkah kita memikirkan betapa anehnya konsep ini? Kita pada dasarnya sedang bertaruh melawan diri kita sendiri. Kita bertaruh "jangan-jangan saya sakit", sementara perusahaannya bertaruh "tenang, kamu akan baik-baik saja." Namun, jika kita kupas lebih dalam, ada realitas yang jauh lebih gila di balik selembar polis. Saat kita membayar premi, kita sebenarnya sedang melempar uang kita ke dalam sebuah panci raksasa bersama ribuan orang asing yang tidak kita kenal. Kenapa kita rela melakukan itu? Dan lebih aneh lagi, kenapa sistem ini tidak hancur berantakan karena dikhianati orang-orang egois?

II

Untuk menjawabnya, kita harus mundur sebentar ke masa 3.000 tahun sebelum Masehi di Tiongkok. Para pedagang kala itu punya satu masalah mematikan: sungai yang ganas. Jika perahu seorang pedagang tenggelam, tamatlah riwayatnya. Dia akan bangkrut total. Lalu, mereka menemukan sebuah peretasan psikologis yang brilian. Alih-alih menaruh semua barang di perahunya sendiri, para pedagang mulai membagi barang mereka ke perahu pedagang lain. Jika satu perahu karam, semua orang kehilangan sedikit, tapi tidak ada satu pun yang kehilangan segalanya. Inilah akar dari konsep berbagi risiko. Secara psikologis, otak manusia sangat membenci ketidakpastian. Kita mengidap apa yang disebut loss aversion, di mana rasa sakit akibat kehilangan jauh lebih besar daripada rasa senang saat mendapat keuntungan. Itulah sebabnya, demi menghindari satu kehancuran besar yang belum pasti, kita dengan senang hati memilih kerugian kecil yang pasti, yaitu membayar iuran bulanan.

III

Namun, mari kita bawa logika kuno ini ke dunia modern dan membedahnya memakai kacamata sains, tepatnya game theory (teori permainan). Bayangkan sistem berbagi risiko ini sebagai sebuah multiplayer game raksasa. Aturan mainnya sederhana: semua pemain patungan, dan siapa pun yang tertimpa musibah boleh mengambil uang dari pot tersebut. Nah, di sinilah konflik ilmiahnya dimulai. Dalam game theory, selalu ada pemain yang mencari celah untuk menang sendiri. Muncul masalah yang disebut adverse selection: orang-orang yang tahu dirinya punya penyakit berat akan berlomba-lomba ikut permainan, sementara orang-orang yang merasa super sehat akan merasa rugi patungan dan memilih keluar. Belum lagi ancaman moral hazard: godaan untuk bersikap ceroboh, atau bahkan sengaja membakar pabrik sendiri, karena tahu toh kerugiannya akan diganti. Logikanya, jika yang sehat keluar dari permainan dan yang tersisa hanya orang-orang berisiko tinggi atau para pencurang, pot uangnya akan kering seketika. Pertanyaannya, dengan celah kehancuran sebesar itu, mengapa permainan asuransi ini bisa bertahan selama berabad-abad? Apa rahasia di baliknya?

IV

Jawaban dari teka-teki itu ternyata adalah keajaiban matematika yang dingin namun indah. Rahasianya terletak pada hukum bilangan besar (the law of large numbers). Perusahaan asuransi, pada intinya, tidak mempedulikan Anda atau saya secara individual. Mereka mempedulikan statistik massal. Jika Anda melempar koin sepuluh kali, hasilnya bisa melenceng jauh dari probabilitas. Tapi jika Anda melempar koin itu satu juta kali, hasilnya akan sangat mendekati 50-50. Dalam game theory asuransi, ketidakpastian hidup satu orang adalah sebuah tebakan buta. Tetapi ketidakpastian dari seratus ribu orang adalah sebuah kepastian matematis. Para ilmuwan aktuaria sudah menghitung chaos manusia ini. Risiko orang curang, risiko kecelakaan, semuanya sudah diserap oleh jumlah peserta yang sangat masif. Permainan ini berhasil justru karena pesertanya adalah ribuan orang asing. Egoisme beberapa individu diimbangi secara telak oleh rutinitas dan kejujuran puluhan ribu orang lainnya.

V

Meresapi fakta ini rasanya memberikan perspektif yang cukup menghangatkan hati. Di balik istilah-istilah finansial yang kaku, dokumen polis yang membosankan, dan hitung-hitungan probabilitas yang dingin, asuransi sebenarnya adalah salah satu bentuk kerja sama sosial paling epik dalam sejarah umat manusia. Saat kita membayar premi bulan ini dan kita tetap sehat, kita tidak sedang membuang uang. Uang itu mungkin sedang digunakan untuk membayar operasi jantung seorang ayah di kota lain, atau membangun kembali rumah sebuah keluarga yang habis dilahap api. Dan kelak, saat roda nasib berputar dan kita yang terjatuh, ribuan orang asing tak bernama itu akan bergantian menyangga kita. Lewat kacamata sains dan logika yang rasional, kita belajar satu hal yang sangat manusiawi: kita merancang sistem matematika yang rumit ini sebagai bukti bahwa kita tidak bisa, dan tidak seharusnya, menghadapi kejamnya dunia sendirian.